Selasa, 12 Maret 2013

LP (LAPORAN PENDAHULUAN) HIPERTENSI

LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI

  1. PENGERTIAN
Hipertensi adalah keadaan dimana dijumpai tekanan darah lebih dari pada 160/ 95 mmHg ( WHO ) juga apabila tekanan darah mencapai 140 / 90 mmHg atau lebih untuk usia 13-50 tahun dan tekanan darah mencapai 180 /95 mmHg untuk usia diatas 50 tahun ( Ulrich S P,1986).
  1. GOLONGAN HIPERTENSI
    1. Primary Hipertensi  atau Hipertensi Essensial : penyebab belum diketahui
    2. Hipertensi sekunder : penyebab kelainan atau kesakitan suatu organ, missal :
·         Endokrin
·         Ginjal
3.      Hipertensi penyebab lain :
·         Chausing syndrome
·         Tumor pituitary
·         Toxemia kehamilan
·         Stress jangka panjang
·         Cedera kepala
·         Penggunaan obat : Amphetamin cs dan oral kontrasepsi
C.     KLASIFIKASI HIPERTENSI MENURUT WHO
1.      Hipertensi ringan   : Tekanan diastole 90 -100 mmHg
2.      Hipertensi sedang  : tekanan diastole 110- 130 mmHg
3.      Hipertensi berat     : Tekanan diastole > 130 mmHg
Menurut pedoman klinis Diagnisis fan Pengobatan hipertensi ( Barry Jobel MD, Hal 3 tahun 1999 Egc Jakarta ).
Stadium hipertensi
No
KATEGORI
SISTOLE
DIASTOLE
1
Stadium ringan
140-159
09-99
2
Stadium sedang
160-179
100-109
3
Stadium berat
180-209
110-119
4
Stadium sangat berat
≤ 210
≥120
Menurut WHO            : >160/95 mmHg
Menurut NHA                        : >140/90 mmHg
D.    ETIOLOGI / FAKTOR PENYEBAB
            Etiologi pada hipertensi primer / essensial tidak diketahui namun factor dari hipertensi primer antara lain :
1.       Usia antara umur 30-40 tahun
2.         Jenis kelamin atau seks : pria paling banyak
3.           Keturunan 75%
4.           Obesitas atau kegemukan
5.             Konsumsi garam yang berlebihan, lemak berlebih, dan tinggi kalori
                        Etiologi pada hipertensi sekunder :
1.         Endokrin
2.         Ginjal
E.     TANDA DAN GEJALA
1.      Kelelahan , letih
2.      Nafas pendek
3.      Sakit kepala, pusing
4.      Mual, muntah
5.      Gemetar
6.      Nadi cepat setelah aktivitas
7.      Gangguan penglihatan
8.      Sering marah
9.      Mimisan
10.  Kaku pada leher atau bahu
F.      PATOFISIOLOGI
            Penyebab hipertensi primer tidak dapat diketahui dengan pasti walaupun telah banyak penyebab yang diidentivikasi seperti factor :
1.      Atherosclerosis
2.      Meningkatnya intake sodium
3.      Baroroseptor
4.      Raktor genetic
v  Emosi /stress
Emosi / stress akan merangsang hipotalamus mempengaruhi saraf simpatis menjadi vasokontriktor akan berpengaruh kerja jantung meningkat dan tensi menjadi naik.
v  Merokok
Nikotin mempengaruhi sekresi rennin menyebabkan pengkakuan pembuluh darah terjadi Atherosclerosis akan meningkatkan kerja jantung dan tensi meningkat.
v  Alkohol
Alkohol mempengaruhi sekresi rennin menyebabkan pengkakuan pembuluh darah terjadi Atherosclerosis akan meningkatkan kerja jantung dan tensi meningkat.
v  Tinggi sodium /garam
Garam mempengaruhi sekresi ADH terjadi retensi urine sehinga volume darah meningkat menyebabkan kerja jantung meningkat dan tensi naik.
v  Tinggi lemak
Lemak  / kolesterol terladi penumpukan lipid pada pembuluh darah akan meningkatkan kerja jantung dan tensi naik.
v  Obesitas
Obesitas akan meningkatkan metabolisme kalori, lemak terjadi penumpukan lemak pada pembuluh darah Atherosclerosis meningkatkan kerja jantung sehingga tensi meningkat.
G.    PENCEGAHAN
1.      Rajin control tekanan darah ke puskesmas jika obat habis
2.      Kurangi beban pikiran yang berat
3.      Menurunkan berat badan
4.      Olah raga secara teratur
5.      Memperbanyak makan buah dan sayur
6.      Mengurangi konsumsi garam, ikan asin, daging kambing, jerohan.
7.      Minum air putih 6-8 gelas perhari atau sesuai ajaran petugas kesehatan.
8.      Menghindari merokok dan minum-minuman beralkohol.
H.    KOMPLIKASI
1.      Penurunan fungsi penglihatan
2.      Stroke
3.      Penurunan fungsi ginjal
4.      Kelainan jantung
I.       DIET RENDAH GARAM
1.      Untuk hipertensi berat tekanan darah lebih dari 180/105 mmHg.
a.       Tidak boleh menambahkan garam dapur dalam masakan.
b.      Hindari makanan : daging kambing, jerohan, ikan asin dsb.
c.       Perbanyak makan buah dan sayur.
2.      Untuk hipertensi sedang kurang 180/105 mmHg.
a.       Mengkonsumsi ¼ sendok the 1 ( gr ) garam dapur perhari.
b.      Hindari makanan seperti diatas ( daging kambing, jerohan, ikan asin dsb).
J.       ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
                        Pengkajian ini meliputi identitas pasien, umur, pekerjaan, riwayat penyakit sekarang, dahulu, dan keluarga.
                        Dalam pengkajian Doengoes ( 1999 ) meliputi aktivitas dan latihan, eliminasi, kebiasaan BAB dan BAK, makan dan cairan meliputi kebiasaan makanan dan minuman yang dikonsumsi dari jenis makanan berlemak, kolesterol tinggi, beralkohol, mengandung garam yang tinggi, dan sebagainya. Neuron sensori : gejala sakit kepala, lemas, istirahat, dan tidur, adanya susah tidur, kebiasaan tidur, persepsi kognitif, persepsi klien tentang penyakitnya sedangkan untuk pemeriksaan fisik yang terpenting adalah tanda-tanda vital yaitu tensi darah, adanya kenaikan.
2.      Diagnosa  dan Intervensi Keperawatan
                        Menurut Doengoes ( 1993 ) pada klien hipertensi dapat ditemukan diagnosa dan intervensi keperawatan sebagai berikut :
a.       Gangguan perfuasi jaringan sehubungan dengan menurunnya suplai O2 jaringan perifer.
1)      Tujuan : suplai O2 ke jaringan terpenuhi
2)      Kriteria hasil : a) Kulit tampak kemerahan tidak cyanosis
                                                                                       b)Suhu tubuh dalam batas normal 36°C s.d 37°C
c) Nadi dalam batas normal ( 60-80 x/mnt )
3)      Intervensi :
a)      Monitor tekanan darah, untuk evaluasi awal gunakan manset yang tepat dan tehnik yang akurat.
                  Rasionalisasi : perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan masalah vaskuler.
b)      Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral perifer
Rasionalisasi : denyutan karotis, juguralis, radialis dan femoralis mungkin teramati/ terpolasi denyut pada tungkai mungkin menurun mencerminkan efek dan vasokontriksi dan kongesti vena.
c)      Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler.
Rasionalisasi : adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisia kapiler lambat, mungkin kaitannya dengan vasokontriksi atau mencerminkan dekompensasi/ penurunan curah jantung
d)     Catat adanya oedem umum / tertentu
Rasionalisasi : dapat mengidentivikasi gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler.
e)      Ciptakan lingkungan yang nyaman
Rasionalisasi : membantu menurunkan rangsang simpatis, meningkatkan relaksasi.
f)       Batasi aktivitas
Rasionalisasi : menurunkan stress dan ketegangan yang mrmpengaruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit.
g)      Lakukan tindakan yang nyaman seperti meninggikan kepala di tempat tidur.
Rasionalisasi :mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang simpatis.
h)      Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah.
Rasionalisasi : respon terhadap terapi obat, tergantung individu efek sinergis obat karena efek sampinh tersebut, maka penting untuk menggunakan obat dalam jumlah sedikit dan dosis rendah.
Kolaborasi : berikan obat sesuai indikasi.
b.      Ganguan rasa nyaman nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
1)      Tujuan : nyeri berkurang / hilang
2)      Kriteria hasil : a) tekanan darah turun/normal maksimal 140/90mmHg
b) klien tidak merasa pusing / leher tidak terasa kaku lagi
c) klien tampak tenang
3)      Intervensi :
a)      Mempertahankan tirah baring selama masa akut.
Rasionalisasi : meminimalkan stimulasi / maningkatkan relaksasi.
b)      Berikan tindakan non farmakologik untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya : kompres idngin pada dahi, pijat punggung.
Rasionalisasi : tindakan massage bertujuan untuk menurunkan tekanan vaskuler serebral dan memperlambat respon simpatik, efektif dalam menghilangkan nyeri.
c)      Hilangkan / minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, misalnya : mengejan waktu BAB, batuk panjang dan banyak bergerak.
Rasionalisasi : aktivitas yang meningkat vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada peningkatan tekanan vaskuler.
d)     Bantu klien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
Rasionalisasi : pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala klien juga dapat mengalamio episode hipertensi postural.
e)      Berikan cairan , makanan lunak yang mudah ditelan.
Rasionalisasi : meningkatkan kenyamanan umum dan mengurangi kebutuhan energi/ kelelahan.
f)       Berikan analgetik sesuai indikasi terapi.
Rasionalisasi : menurunkan nyeri dan merangsang system syaraf simpatis.
c.       Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelelahan.
1)      Tujuan : klien dapat beraktivitas tanpa bantuan
2)      Kriteria hasil : a)   klien merasa mampu beraktivitas
b)      klien bisa beraktivitas sederhan
3)      Intervensi :
a)      Kaji respon keluarga terhadap aktivitas
Rasionalisasi : mengkaji respon fisiologis terhadap stress aktivitas dan bila ada merupakan indicator dari aktivitas kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
b)      Intruksikan klien tentang teknis penghematan energi
Rasionalisasi : tehnik penghematan energi mengurangi penurunan energi, juga membentu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
c)      Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas / perawatan diri bertahap, berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Rasionalisasi : kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.
d.      Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan pusing sekunder dengan peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK).
1)      Tujuan : penderita bisa istirahat dan tidur dengan tenang
2)      Kriteria hasil : a)  Penderita bisa tidur ±8 jam perhari.
b)      Mata tidak tampak merah.
3)      Intervensi :
a)      Kaji kebiasaan tidur / istirahat
Rasionalisasi : mengkaji perk\lunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat.
b)      Kaji kebiasaan pengguanaan obat sedative
Rasionalisasi : kebiasaan pemakaian obat sangat sedative sangat mempengaruhi pola tidur.
c)      Ciptakan suasana tenang
Rasionalisasi : memberikan situasi kondusif untuk tidur.
d)     Anjurkan tehnik relaksasi
Rasionalisasi : membantu menginduksi tidur.
e)      Beri posisi tidur yang nyaman
Rasionalisasi : perubahan posisi mengubah cara tekanan dan meningkatkan istirahat.
e.       Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.
1)      Tujuan : pasien mengerti tentang penyakitnya
2)      Kriteria hasil : pasien dapat mengungkapkan tentang hipertensi, gejala, tanda, penyebab, komplikasi, dan pencegahannya.
3)      Intervensi :
a)      Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.
Rasionalisasi : mengkajio tingkat kemampuan klien, yang mana dapat mempengaruhi minat klien/ orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan terapi dan prognisis serta hambatan yang terjadi dalam proses pengobatan.
b)      Tetapkan dan tentukan tekanan darah normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal dan otak.
Rasionalisasi : memberikan dasar pengetahuan yang benar tentang tekanan darah serta menerangkan faktor-faktor  resiko yang menunjukan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler.
c)      Bantu klien dalam menidentifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskuler yang dapat diubah, misalnya obesitas, diet tnggi lemak jenuh dan kolesterol, merokok, alkoholik, dan pola hidup penuh stress.
d)     Jelaskan tentang terapi, obat-obatan serta efek samping yang terjadi.
Rasionalisasi : menjelaskan factor resiko dan kemungkinan yang diubah serta manfaat yang dapat diambil.
e)      Anjurkan klien untuk konsultasi dengan pemberi peringatan sebelum menggunakan obat yang diresepkan ataupun yang tidak diresepkan.
Rasionalisasi : kewaspadaan penting dalam pencegahan interaksi obat yang kemungkinan berbahaya
DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth.2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Doengoes ( 1993 ). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Smith T. 1995. Tekanan Darah Tinggi. Cetakan V. Arcan.Jakarta
Sobel, B. J. M. D. and George L. Bakris, M . D . FACP. 1999 . Pedoman KLinis diagnosa dan Terapi Hipertensi. Penerbit Hipokrates. 

0 komentar:

Poskan Komentar